CREATIVE THINKING MINGGU 5

Senin, 28 Maret 2022

Haloo semuanya! long time no see😀, minggu lalu saya tidak upload blog karena vclass error sehingga tidak bisa melihat materi. Dan di minggu ini kita membahas Critical Thinking.

Mengapa kita belajar untuk mendapatkan sebuah gelar? Seperti kata Francois Donergue "Some people study all their life and at their death they have learned everything except to think". Dan Albert Einstein berkata imajinasi lebih penting dari pengetahuan. 

Karena orang yang hanya belajar dan belajar mereka tidak pernah memberi kesempatan untuk dirinya berpikir, berpikir untuk menciptakan hal yang baru dengan segala imajinasi yang mereka miliki. Dari imajinasi imajinasi itu mungkin mereka akan menghasilkan sebuah pengetahuan yang baru yang dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap sesuatu. 

Apa itu berpikir? berpikir merupakan sebuah alur/proses yang sedang dicerna di dalam otak kita. 

Apa itu berpikir kritis (critical thinking)? Berpikir kritis adalah proses disiplin intelektual untuk secara aktif dan terampil mengkonseptualisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh, pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai panduan untuk keyakinan dan tindakan. 

Ada 6 langkah untuk berpikir kritis,

1. Pengetahuan (knowledge)

2. Pemahaman (comprehension)

Pahami apa yang kita baca, dengar, dan lihat.

3. Aplikasi (application)

Jika sudah memahami suatu hal, kita harus mengaplikasikan atau menerapkannya.

4. Analisis ( analysis)

Memecah, membedakan, menyimpulkan, memprioritaskan, mengurutkan, membenarkan, mengklasifikasikan, menyusun, membagi.

5. Sintesis (synthesis)

Mengkombinasikan bagian-bagian yang telah dianalisis untuk membentuk teori baru.

6. Evaluasi (evaluation)

Memutuskan dan menyimpulkan dengan bahasa kita sendiri. 


Critical Thinking Standards (CTS)

Merupakan standar yang harus diterapkan pada pemikiran setiap kali seseorang tertarik untuk memeriksa kualitas penalaran tentang suatu masalah, isu, atau situasi. 

Standar berpikir kritis (intelektual) yang paling signifikan: 

1. Kejelasan (clarity)

Kejelasan adalah standar gerbang. Kita harus bisa menguraikan, mengungkapkan, dan memberikan contoh tentang suatu hal. 

2.  Ketepatan (accuracy)

Kita harus bisa memeriksa dan mengetahui kebenarannya. 

3. Presisi (precision)

Kita harus bisa memberikan rincian yang lebih spesifik. Karena terkadang sebuah pernyataan dapat menjadi jelas dan akurat, tetapi tidak tepat. 

4. Relevansi (relevance)

Sebuah pernyataan bisa jelas, akurat, dan tepat, tetapi tidak relevan dengan pertanyaan yang dipermasalahkan. 

5. Kedalaman (depth)

Sebuah pernyataan bisa jelas, akurat, tepat, dan relevan, tetapi dangkal. Jadi kita harus mendalami dan memperhitungkan masalah yang paling signifikan dalam pertanyaan. 

6. Luasnya (breadth)

Garis penalaran mungkin jelas akurat, tepat, relevan, dan mendalam, tetapi kurang luas (seperti dalam argumen dari sudut pandang guru atau siswa yang mendalami suatu masalah, tetapi hanya mengenali wawasan dari satu sisi pertanyaan.) 

7. Logika (logic)

Ketika kita berpikir, kita menyatukan berbagai pemikiran ke dalam beberapa urutan. Ketika kombinasi pemikiran saling mendukung dan masuk akal dalam kombinasi, pemikiran itu "logis." Ketika kombinasi tidak saling mendukung, bertentangan dalam beberapa hal, atau tidak "masuk akal", kombinasi tersebut tidak logis. 

8. Keadilan (fairness)

Berpikir kritis menuntut agar pemikiran kita adil. 


Manfaat berpikir kritis :

Dalam bidang akademik

  • Memahami argumen dan keyakinan orang lain
  • Secara kritis mengevaluasi argumen dan keyakinan itu
  • Mengembangkan dan mempertahankan argumen dan keyakinan yang didukung dengan baik.

Dalam bidang pekerjaan 

  • Membantu kita untuk berefleksi dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang keputusan kita sendiri dan orang lain
  • Mendorong keterbukaan pikiran untuk berubah 
  • Membantu menjadi lebih analitis dalam memecahkan masalah 

Dalam lingkungan masyarakat 

  • Membantu kita menghindari pengambilan keputusan pribadi yang bodoh. 
  • Mempromosikan warga negara yang berpengetahuan dan peduli yang mampu membuat keputusan yang baik tentang masalah sosial, politik dan ekonomi yang penting.
  • Membantu dalam pengembangan pemikir otonom yang mampu memeriksa asumsi mereka, dogma, dan prasangka.

Hambatan saya dalam berpikir kritis, yaitu :
  • emosi yang kuat
  • relativistic thinking, merupakan pandangan serba relatif kadang yang dianggap benar ternyata tidak benar.
  • rasionalisasi

Komentar